KHAIRA DAN SKIZOFRENIA

KHAIRA DAN SKIZOFRENIA

Skizofrenia, hanya orang-orang yang berkecimpung dalam dunia kedokteran yang sering mendengar dan paham istilah ini. Ya, penderita penyakit ini dinamai sebagai orang gila. Mereka selalu dipandang rendah dan ditakuti oleh masyarakat di sekitarnya. Tapi bagi mereka yang bisa bangkit, mereka akan mendapatkan dua jempol dari masyarakat.
Khaira adalah seorang gadis yang punya kebiasaan buruk. Dia seringkali melamun. Berpikir tentang bagaimana caranya untuk mewujudkan 100 target dan cita-citanya. Meski dia tahu bahwa hal terpenting yang harus dilakukannya saat ini adalah memilih salah satu target yang paling prioritas, dan mencoba untuk fokus dan memulainya. Tak ada sesuatu yang dipikirkan, kemudian ia akan datang tiba-tiba tanpa kita berusaha untuk memulainya.
Kring.... kring....
Suara alarm membangunkan Khaira dari mimpi indahnya. Ia harus bangun, mandi dan bergegas untuk melanjutkan packing barang-barang yang akan ia bawa ke pelatihan. Sudah dua hari ia mencoba packing tapi tak kunjung berhasil. Semoga pagi ini bisa.
“Ma, kopernya masih tidak bisa memuat semua barangku. Bagaimana caranya agar semuanya masuk dalam satu koper ma?”
“Coba susun bajunya masing-masing dengan pasangannya. Kemudian gulung dan ikat dengan karet gelang.” Nasehat mama dengan lembutnya.
Khaira yang dari kemaren sudah kesal dengan pakaiannya. Mendengar nasehat mama ia langsung mengubah tata letak bajunya. Namun sayang, koper itu tetap tidak bisa memuat semua barang-barangnya.
“Ishshsh.... sebel lah. Kenapa tetap tidak bisa? Padahal sudah sesuai dengan nasehat mama. Ma...... tetap ndak bisa.”
“Coba kita ganti dengan koper yang besar.”
“Berat kopernya lebih dari 15 Kg nggak ma? Kalau lebih nggak bisa dibawa.”
Setelah sekian kali mencoba akhirnya Khaira tetap menggunakan koper paling besar itu, satu tas ransel, satu buah tas dompet dan satu kantong kresek berisi sepatu. Sudah pasti orang yang pernah mengikuti pelatihan akan terheran dan merasa lucu melihat barang-barang Khaira. Secara, pelatihannya hanya diselenggarakan selama dua minggu. Tapi prepare Khaira sudah seperti orang merantau dan bertahun-tahun baru kembali pulang. Hehehe....
Alangkah terkejutnya Khaira ketika sampai di tempat pelatihan. Kebanyakan peserta membawa tas gunung dan beberapa membawa koper dengan ukuran lebih kecil dari punya Khaira. Jari mungilnya langsung berselancar di atas ponselnya, biasa update status dulu.
 Khaira
14 Agustus 2016 pukul 14.04
Serasa kita sendiri yang salah koper.....
Suka                Komentar                  Bagikan

Karena niat awalnya untuk pelatihan adalah agar bisa out of the box dan mencapai cita-cita, maka jadilah skenario Tuhan berjalan lewat aturan para pelatih. Seminggu pertama meski ada masalah, selalu diusahakan untuk tetap tegar dan menghadapi dengan senyuman. Namun ketika sudah di outdoor, rasa kesepian itu makin menjadi-jadi. Bagaimana tidak, semua orang kompak dengan tim mereka masing-masing. lah kita, jangankan kompak dalam tugas dan permianan, untuk informasi saja tidak tersebar ke semua anggota tim. Apakah ini kesalahan ketua? Jawabannya adalah bukan. Ini adalah kesalahan seluruh anggota dan ketua tim, karena kurangnya komunikasi dan koordinasi antar tim.
            Selama seminggu pelatihan di indoor, Khaira selalu bertanya pada ibunya.
“Ma, mama ridho kalau anak mama ini akan merantau jauh sekali, tidak pulang selama setahun?”
Seorang ibu yang baik hati, yang sangat menginginkan kebahagiaan dan massa depan yang cerah untuk anak-anaknya, beliau memberi nasehat.
“Nak, ini cita-citamu kan. Bersabarlah dengan semua ujian, kuatkan hati untuk menempuh jalan ini. Papa dan mama ridho, Khaira pergi untuk mengabdi pada negara dan mencapai cita-cita. Pikirkanlah hal positif. Jika kita baik dan berjalan dalam koridor agama Allah, maka insyaAllah Allah akan selalu melindungi. Tak perlu pakai cincin tunangan segala atau mengikat diri dengan jimat yang diberi dukun. Khaira tau itu termasuk perbuatan syirik bukan?”
Khaira menganggukkan kepala kepada ibunya tanda ia memahami maksud perkataan ibunya. Dengan mata berkaca-kaca, ia melambaikan tangan pada ibu dan ayah yang melaju untuk pulang. Sebenarnya dari awal pelatihan Khaira sudah merasa menjadi topik pembicaraan banyak orang. Entah itu bisikan pujian maupun cacian. Hal itu berlanjut sampai hari terakhir pelatihan. Karena kondisi inilah akhirnya Khaira mengundurkan diri untuk berobat.
            Tepat 5 tahun yang lalu, khaira juga pernah mengalami hal yang sama. Dalam satu otak yang ia punya, ia mencoba memecahkan berbagai macam masalah. Bukan saja masalah dia pribadi, tetapi juga masalah keluarga dan masyarakat yang jauh dari islam yang sebenarnya. Tuhan tidak menerima 40 hari amalan seseorang yang pernah sekali mendatangi dukun. Ia sangat tidak ingin berbuat syirik dan tidak ingin ada keluarganya yang berbuat seperti itu. Akhirnya saat Kak Nengsih sakit, ia pun tumbang. Baginya peristiwa tumbangnya 5 tahun yang lalu adalah perjalanan spiritual. Meski dokter berkata itu adalah depresi ringan, penyakit awal pemicu skizofrenia dan para dukun berkata itu adalah penyakit yang dikirimkan oleh mereka yang tidak menyukai pernikahan Kak Nengsih. Hatinya tetap kuat meyakini bahwa penyakit ini adalah ujian dari Allah untuk membuktikan seberapa ia yakin dan cinta pada Allah.
            Setelah dia pulang ke rumah, barulah ia mencoba menelaah apa yang terjadi untuk saat ini. Pelatihan itu memberikan banyak pelajaran dan ilmu baginya. Ia yang hanya merasa musik adalah hiburan, sekarang terbuka fakta bahwa ia punya bakat di musik. Kondisi yang diciptakan panitia untuknya adalah kondisi yang bisa membuat segala trauma hilang, tergantikan oleh bakat yang terpendam. Meski kini ia tak bisa melanjutkan pengabdian lewat program itu. Tapi ia yakin apa pun pekerjaan yang ia lakukan tetap dalam visi yang sama yaitu mencerdaskan anak bangsa.
            “Kak, khaira merasa hutang budi dengan para panitia. Ucapan terima kasih dan maaf pada panitia belum terucapkan secara langsung. Kakak, mama, dan papa tidak marah kan dengan keputusan Khaira ini. Khaira sangat takut penyakit ini bakalan kambuh lagi. Tapi disamping itu Khaira juga sangat ingin sembuh dan mengajar kembali. Wujudkan 100 target yang sudah dibuat itu. Khaira yakin, ada hal yang lebih indah dan terbaik yang akan diberikan Tuhan nanti.”
            Kak Nengsih selalu memberi semangat pada Khaira, ia selalu yakin dia memiliki adik yang cerdas dan baik hati. Terkadang ia dimanfaatkan oleh orang-orang sekitar karena keelokan hatinya. Suatu ketika pernah Kak Nengsih geram sekali melihat tingkah adiknya ini. Dia tetap tersenyum meski pada orang yang pernah mem-bully-nya.
            “Kakak tidak melarang Khaira untuk berbuat baik. Kami bisa menerima keputusanmu. Tetapi satu hal yang harus Khaira ingat. Khaira harus tetap tinggal bersama Kakak sampai khaira bisa mengendarai motor, tidak gemetaran lagi, hilang halusinasinya, pikiran paranoid, motivasi diri harus kuat , tidak delusi lagi, sudah bisa berinteraksi dengan masyarakat, ingatannya makin kuat (tidak lupa lagi), dapat berkonsentrasi dan kaya akan pembendaharaan kata. Untuk bisa mencapai itu semua kamu harus belajar menanggulangi stress, depresi, pikiran negatif, belajar rileks, dan tidak menggunakan alkohol atatupun obat-obatan tanpa sepengetahuan dokter serta segera berkonsultasi ke dokter / psikiater bila timbul gejala-gejala seperti yang disebutkan tadi. Khaira paham maksud kak? Bisa khaira ingat informasinya dengan baik? Khaira sekarang sedang dalam proses pemulihan total. Khaira pasti bisa jadi guru, penulis dan businesswoman jika penyakit ini sudah jenuh dengan mu alias tak ada lagi dalam tubuhmu. Ok.”
“Ok kak. Khaira akan ingat selalu pesan kakak. Khaira harus secepatnya bisa mengendarai motor dan mencari pekerjaan.”
“Yakin kamu sudah bisa bekerja seperti sedia kala?” tanya Kak Nengsih.
“Khaira bisa sembuh Kak. Kak percaya pada Allah kan. Allah yang menciptakan penyakit tentu Allah punya penawarnya (obatnya). Tapi sekarang coba Kak jelaskan apa itu delusi, halusinasi, pikiran paranoid dan hal-hal yang berhubungan dengan penyakit ini.”
“Ok. Kak akan jelaskan. Tapi sediakan dulu kertas atau catat dulu di HP mu. Kamu kan pelupa orangnya . hehehe....”
Khaira yang antusias mendengar ucapan kakaknya, langsung bergegas meraih HP untuk merekam penjelasan Kakaknya.
“Ok, Kamu siap menjadi pendengar?”
“Ya jelas siap lah Kak. Nih aku sudah duduk rapi kayak anak SD nih.”
“Syaratnya kamu belum boleh bertanya, mengomentari atau memberi tanggapan sampai kakak selesai menjelaskannya. Deal !”
“Deal !!! Kakakku yang baik hati dan manis.”
“Gombal. Kalau kamu mengikuti lomba manusia tergombal bersama peserta laki-laki, pasti kamu yang menang ya. Hahaha.” Kakak nengsih membuat suasana santai terlebih dahulu.
“Pertama kita bahas dulu apa itu skizofrenia. Skizofrenia berasal dari dua kata yaitu “skizo” yang artinya retak atau pecah(spilit), dan “frenia” yang artinya jiwa. Jadi kalau digabung jadinya apa Khaira?”
“Skizofrenia adalah jiwa yang retak atau pecah. Kakak, tadi katanya tidak boleh mengomentari sekarang kok malah ditanyain.”
“Untuk membuktikan saja apakah tubuh dan fikiranmu ada bersama kakak saat ini.” Jawab Kak Nengsih dengan senyuman.
“Jawabanmu betul. Nah Hawari lebih lengkap menjelaskan bahwa skizofrenia adalah seseorang yang mengalami keretakan jiwa atau keretakan kepribadian. Gejalanya dapat terjadi kapan saja. Gejala pada pria biasanya timbul pada akhir masa kanak-kanak atau awal usia 20-an, sedangkan pada wanita pada usia 20-an atau awal 30-an. Skizofrenia dapat mempengaruhi cara berpikir, perasaan, dan tingkah laku.”
“Apa saja bentuk gejalanya kak? Jelaskan lah selengkap-lengkapnya.” Sahut Khaira penuh tanda tanya.
“ Kan sudah Kak bilang di awal jangan ada komentar sampai Kak selesai menjelaskan. Kecuali jika Kak bertanya langsung padamu. Paham.”
“Paham Kak.”
“Dokter membedakan gejala skizofrenia dalam tiga kategori. Pertama adalah gejala positif. Gejala positif ini terbagi lagi menjadi delusi/waham, halusinasi, dan pikiran paranoid. Delusi yaitu keyakinan yang tidak masuk akal. Contohnya berfikir bahwa dia selalu diawasi lewat televisi, berkeyakinan bahwa dia orang terkenal, berkeyakinan bahwa radio atau televisi memberi pesan-pesan tertentu, memiliki keyakinan agama yang berlebihan. Apakah dari contoh tadi, ada yang pernah kamu alami?” tanya Kak Nengsih sambil memperhatikan kondisi adiknya dengan cermat.
“Ada kak, Khaira memang merasa selalu diawasi oleh semua orang pada saat pelatihan kemarin Kak.”
“hmm....” Kak Nengsih mencoba memikirkan kalimat apa yang tidak akan menyinggung perasaan adiknya. “Karena baru satu gejala yang Khaira alami, bukan berarti Khaira adalah penderita Skizofrenia. Kalau kesemua gejalanya sudah Khaira alami baru Khaira tergolong pasien yang harus diperhatikan Dokter 24 jam.” Kak Nengsih masih tetap memperhatikan ekspresi adiknya sambil menjelaskan penyakitnya. Setelah dirasa Khaira bisa menerima kondisi dirinya barulah Kak Nengsih menjelaskan kelanjutannya.
“Kita Lanjut penjelasannya ya Khaira. Apa itu halusinasi? Halusinasi adalah mendengar, melihat, merasakan, mencium sesuatu yang sebenarnya tidak ada. Sebagian penderita, mendengar suara/bisikan bersifat menghibur atau tidak menakutkan. Sedangkan lainnya mungkin menganggap suara/bisikan tersebut bersifat negatif/buruk atau memberikan perintah tertentu. Selanjutnya adalah pikiran paranoid, yaitu kecurigaan yang berlebihan. Contohnya merasa ada seseorang yang berkomplot melawan, mencoba mencelakai atau mengikuti. Percaya ada makhluk asing yang mengikuti dan yakin dirinya diculik/dibawa ke planet lain. Gejala kedua adalah gejala negatif. Gejala yang dimaksud adalah motivasi rendah (low motivation) dan menarik diri dari masyarakat (social withdrawal). Gejala terakhir adalah gejala kognitif. Yang termasuk gejala kognitif adalah mengalami problema dengan perhatian dan ingatan, tidak dapat berkonsentrasi, dan miskin pembendaharaan kata dan proses berfikir yang lambat.”
“Kak, dari ketiga gejala, hampir semua Khaira alami Kak. Bisakah Khaira pulih seperti teman-teman yang sehat Kak. Khaira ndak mau sakit. Kalau Khaira sakit pastinya banyak target dan cita-cita khaira yang gagal Khaira raih.” Tanpa disadarinya air matanya mengalir bercucuran. Sebagai Kakak yang baik, Nengsih mencoba menenangkan emosi adiknya.
“Khaira, kenapa Khaira ragu untuk sembuh? Sekarang kan Khaira sedang berobat. Tak mungkin lah sekali berobat langsung sembuh. Semua butuh proses dan memakan waktu. Jika khaira bisa memotivasi diri Khaira dengan baik, Kakak dan keluarga juga mendukung Khaira, proses penyembuhan itu akan cepat kita lalui. Akhirnya muncullah pribadi Khaira yang baru, yang semangat, riang dan tidak takut untuk gagal. Khaira percaya janji Allah kan? Setiap penyakit pasti ada obatnya. Setelah kita berobat pasti disembuhkan Allah. Semangat ya dek. Jika kamu semangat, cita-cita dan targetmu akan tercapai. Percayalah.”
“Hiks... hiks.... iya Kak. Khaira akan selalu semangat. Rezeki dan ujian takkan pernah tertukar.”

Kemudian Kakak beradik ini menjadi lebih dekat, saling menyemangati dan saling berbagi suka dan duka. Akhirnya mereka benar-benar sembuh total.‘

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Paralayang Live

BONGKAR RAHASIA OKNUM YANG MENGAKU PIHAK TELEGRAM

Suara Hati Sang Kekasih