Kegelisahan hati, antara tekanan dan krisis percaya diri

Saya tak tau akan jadi apa tulisan ini nanti. Sebuah prosa murnikah? Atau malah prosa yang berisi kata pujangga, atau mungkin hanya luapan emosi belaka. Saya hanya ingin berbagi rasa atau lebih tepatnya mencari teman yang memiliki rasa yang sama. Kemudian berharap agar rasa sakitnya hanya saya dan beberapa yang telah merasakannya saja yang mengalami. Biarkan saya saja yang berpikir dari sudut negatifnya. Siapapun yang kelak kebetulan merasakan hal yang sama, cobalah untuk melihat dan berpikir dari sudut yang berbeda. Karena saya telah merasakan bahwa berpikir dan melihat dari sudut negatif hanya akan memperparah dan memperdalam luka. Kita hanya akan terpuruk dan tak mampu untuk bangkit kembali.
Siapa yang tak kan bahagia ketika menerima kabar kelulusannya??? Saya, anda dan siapapun itu pasti akan melonjak kegirangan. Terlebih jika butuh perjuangan dan penantian cukup panjang sebelum menerimanya. Namun apa jadinya jika bunga yang tengah bermekaran itu, engkau sirami akar dan batangnya dengan racun mematikan?
Ia yang tengah semangat 45 menambah mekar bunganya hingga lebih berguna, mencoba membalas dan memanfaatkan rezeki dan anugrah yang ia dapat agar si pemberi tak merasa salah dalam memilihnya.
Kemudian terbakar oleh kata-kata penuh ketidakpercayaan
Ungkapan merendahkan yang keluar dari orang yang disanjung dan dihormati lebih dalam menusuk dan menghancurkan ketimbang lahir dari orang yang biasa saja
Ungkapan pertama mungkin bisa dimaklumi dan dibuktikan bahwa anggapan itu salah
Tetapi saat pembuktian yang dilakukan tak mengubah pandangannya
Hingga yang sedang berusaha tak tahu harus berbuat apa
Kepercayaan dirinya pun akan ikut gugur
Apa yang bisa dilakukan, untuk bisa merangkai hati kembali ???
memunculkan kelopak barunya
hingga tumbuh bunga dengan warna yang lebih indah....

Saya rasa hanya keyakinan bahwa "Wama Indallahi Khair" (Apa yang disisi Allah yang terbaik) yang mampu membangkitkan semangat.
Keyakinan bahwa Allah tak memandang dunia itu lebih penting dan bernilai. Jika Allah meyakini bahwa dunia itu penting dan bernilai maka orang-orang yang bertaqwa dan dekat dengan Allahlah yang akan ia berikan dunia. Kita yang lemah iman takkan mampu mendapatka dunia. Keyakinan bahwa dunia ini hanya sementara dan akhirat yang lebih kekal, yang mampu membuat hati memunculkan kelopak barunya. Ia akan menerima ungkapan merendahkan dan ketidakpercayaan tadi sebagai ujian saja. Ujian keyakinan.

Dan saat seperti ini membuat kita memerlukan sosok yang dapat merangkul dan menyemangati. Yang pundaknya dapat dijadikan tempat bersandar. Jika sudah berkeluarga alhamdulillah bisa berbagi beban dengan pasangan. Jika masih single, maka hanya shalat dan sujud padanya yang perlu diperkuat. Berkeluh kesah lah pada Beliau yang memang menggenggam hatimu. Karena ia tahu bagaimana membolak balikkan hatimu.

Selamat malam. Saya do'akan kita tetap semangat dalam mengarungi hari. Tak begitu menghiraukan ungkapan orang lain. Meski terkadang kita hidup dan tumbuh dari padangan dan ungkapan orang lain. Semoga bisa berubah lebih baik, menjadi pribadi yang baik meski tak sempurna. Tetap syukuri nikmat hidup yang ada.

Aduh .... malam minggu kelabu jadinya.....

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Paralayang Live

BONGKAR RAHASIA OKNUM YANG MENGAKU PIHAK TELEGRAM

Suara Hati Sang Kekasih