berbahagialah masih diberi rasa itu

Berbahagialah Masih Diberi Rasa Itu, Itu Pertanda Ia Meridukanmu

Allah sudah membangunkanku di sepertiga malam terakhir untuk memanjatkan doa atau sekedar bercakap dengan-Nya. Namun malas itu tetap menghampiriku. Hingga selimut kutarik lebih dalam. Menyambung kembali lelapnya tidur.
Setelah subuh datang, rasa tak enak muncul di hatiku. Aku telah mengabaikan-Nya. Aku tak menghiraukan pesan rindu dari-Nya. Aku tak patuh lagi pada-Nya.
Apakah ini panggilan dari-Nya?? Agar aku kembali berbenah diri. Aku mau hijrah. Tapi rasanya kok belum siap. Masih banyak dosa yang ku perbuat.😭😭
Salahkah pemikiranku ini???
 Aku masih jahat di dunia ini. Meskipun aku sudah tak mau seperti itu lagi. Banyak masalah yang menghampiri dan aku rasanya tidak kuat untuk menghadapinya. Namun di lain sisi aku tak mau lari dari kenyataan ini. Lisanku terlalu kasar dan keras kalau sedang berucap. Seolah-olah hanya aku yang benar saat itu. Aku takut jika aku hijrah, maka akan banyak memperoleh cemoohan dan cibiran.
Lalu aku harus bagaimana??? aku tak tahu cara memulainya..
(sebuah curahan hati dari seorang sahabat)

Aku sering jatuh cinta. Meski kadang hanya lewat rupa. Padahal Allah telah jelas memberi isyarat bahwa yang baik agamanya lebih utama dari hanya sekedar rupa. Sebelum aku jatuh cinta pada manusia, aku begitu rapat dengan-Nya. Semua hal aku ceritakan pada-Nya. Selalu menjadikan-Nya yang utama. Namun ketika ia telah mulai mempercayakan kembali sebuah rasa di hatiku. Aku seolah lupa akan diri-Nya. Aku malah mendahulukan pria itu. Bagaimana caranya agar si pria juga menyukaiku. Aku lupa bahwa rasa ini Allah yang beri. Ia juga yang bisa melenyapkan rasa ini. Membuat yang ku cintai berpaling dariku juga ia mampu. Ia Sang pembolak-balik hati.
Saat pertama ku menyadari rasa itu, seolah semua proses berjalan dengan lancar. Seolah sang pria juga memendam rasa padaku. Komunikasi mulai rutin dilakukan. Namun percakapanku dengan-Nya mulai berkurang. Hari demi hari dilalui. Satu sama lain mulai saling mengenali tabiat masing-masing. Ia mulai menampakkan perubahan sikap. Keramahannya mulai berkurang. Tak ada lagi sapaan di awal maupun di akhir pertemuan. Semua sikapnya seolah hanya untuk mengolokku.
Dirinya bertambah banyak penggemar karena keramahannya tadi. Dan aku mulai cemburu. Hatiku terasa terbakar. Tapi, Aku masih dengan gejolak rasa yang membara masih berharap bisa berlabuh dengannya dalam sebuah ikatan suci. Hingga ku beranikan diri sekedar bertanya padanya, Bagaimana mengetahui seorang pria serius padaku?. Ia akan langsung jujur mengungkapkannya padamu begitu jawab yang ia beri. Kemudian kutanyakan kembali, ketika ia hanya memberiku sebuah isyarat, apakah ia tidak serius padaku?. Yang serius tidak hanya akan memberimu isyarat dan aku belum siap. Ia seolah tau maksud pertanyaanku.
Aku malu. Malu padanya dan pada Illahiku. Aku telah mengabaikan-Nya demi mendapatkannya. Hingga akhirnya aku ditinggalkan oleh keduanya. Aku mengabaikan isyarat cemburu Tuhanku, hingga akhirnya ia buat hati sang pria tak lagi condong padaku. Aku sendiri lagi. Mencoba kembali menata hati. Rasa ini adalah rasa yang muncul sebelum waktunya dan tak disertai Ridho Allah saat menjalankannya. Aku ingin hijrah lagi.... Duhai Tuhanku,,, masihkah ku bisa kembali pada-Mu???
(Isi hati salah satu sahabat dari tempat yang berbeda)

Bulan Suci Ramadhan telah datang, dan aku rasa biasa saja. Aku bahkan tak tahu kapan hari H nya tiba. Dulu aku selalu antusias setiap ia akan datang. Sebulan sebelum kedatangannya aku sudah merutinkan amalan yang bisa aku lakukan saat ia tiba seperti tilawah mulai panjang, puasa setiap hari, dan tahajud lebih lama. Tapi kini, sampai malam terakhir sebelum kedatangannya pun aku masih kehilangan tahajud itu.
Biasanya aku lebih cepat untuk minta maaf pada keluarga dan berkeliling ke semua tetangga sebelum malam tarwih pertama. Sekarang sudah adzan isya pun aku belum mengucapkan maaf pada ayah. Malas ku begitu nyata.
Apakah ini akibat dua hari yang lalu aku didera sakit kepala di bagian dahi tengah saat waktu ashar tiba? Kalau memang iya, harusnya aku lebih cepat lagi meminta maaf dan dengan senang hati menyambut ramadhan. Karena dari literatur yang ku baca itu adalah salah satu pertanda 3 hari menjelang kematian. Kematian seperti apa yang akan aku jalani jika hatiku tak senang menyambut bulan suci? Apakah ini pertanda imanku telah berangsur lenyap dari hati?? Apa saja pertanda lain dari-Nya yang sudah ku abaikan? Tak mungkin ia langsung melenyapkan iman di dada tanpa satu pertanda pun.
Tuhan,,,, sudah terlalu banyakkah dosaku?? Hingga aku tidak sebahagia dulu menyambut bulan suci-Mu. Wahai Allah, masihkah aku bisa berubah?? Hingga jika memang esok adalah kematianku, aku masih bisa mati dalam kondisi Husnul khatimah.
Allah... ampuni aku. Bantu aku membersihkan kembali jiwaku. Hingga saat ku menghadap-Mu, tubuh ku telah suci dan bersih seperti saat Engkau ciptakan dulu.
(Curhatan hati yang lainnya)

Dari ketiga curhatan hati tadi, dapat dilihat bahwa ketiganya diberikan sebuah rasa oleh Allah. Ya, sebuah rasa bersalah. Rasa bersalah yang mendalam akibat melalaikan panggilan dan pertanda dari-Nya. Bersyukurlah mereka, Allah masih sayang pada mereka. Hingga ia masih memberikan pertanda dan rasa itu pada mereka.
Apa jadinya kalau mereka Allah biarkan saja dengan dosa-dosanya? Mereka merasakan bahwa dosa itu adalah nikmat yang biasa saja. Hal lumrah yang juga dirasakan oleh orang lain. Mata mereka ditutup Allah untuk mengenali dosa. Saat mereka tak bisa lagi membedakan halal dan haram, maka saat itulah Allah sudah tak menghiraukan mereka. Mereka akan berakhir di nerakanya Allah. Beruntungnya lagi, mereka diingatkan sebelum ramadhan datang. Sehingga mereka bisa memanfaatkan ramadahn sebagai wadah tempat mereka memohon ampunan pada Allah dan berlatih untuk hijrah kembali pada-Nya. Semoga mereka dan kita semua diberikan ampunan oleh Allah di ramadhan kali ini dan berhasil memperoleh titel taqwa yang telah dijanjikan Allah.

Padang, 17 Mei 2018 M / 1 Ramadhan 1439 H
Karya : sri yeni oktanovia
Sebuah karya yang dititipkan Allah untuk disyiarkan ketika sahur pertama telah dilalui.
7.00 WIB
Semoga ramadhan tahun ini lebih baik dari ramadhan sebelumnya.
😊😊😊

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Paralayang Live

BONGKAR RAHASIA OKNUM YANG MENGAKU PIHAK TELEGRAM

Suara Hati Sang Kekasih